Gue pernah duduk di ruang wawancara sebuah perusahaan logistik di Jakarta. Di depan gue, seorang kandidat yang CV-nya lumayan menjanjikan. Pengalaman kerja ada, skill komunikasi oke, dan dia sempat cerita kalau dia sering banget dinas luar kota. Tapi begitu HRD nanya soal ekspektasi gaji, dia jawab dengan gaya santai khas orang habis liburan: "Terserah perusahaan aja, Pak, yang penting bisa jalan-jalan."
Ruang rapat langsung hening. HRD-nya cuma senyum tipis, lalu lanjut ke pertanyaan berikutnya. Dua minggu kemudian, gue dengar kandidat itu nggak lolos. Bukan karena kemampuannya kurang, tapi karena jawabannya bikin perusahaan ragu.
Nah, kalau kamu tipe orang yang sering bepergian — entah karena hobi traveling, sering dinas, atau memang hidupnya mobile — ada beberapa kesalahan wawancara yang sering banget kejadian dan sayangnya jarang disadari. Gue sudah lihat sendiri beberapa di antaranya. Yuk, kita bedah satu-satu.
Menganggap Fleksibilitas Traveling Sama dengan Fleksibilitas Kerja
Ini kesalahan paling umum. Banyak traveler merasa karena mereka biasa backpacking ke tempat asing, tidur di hostel, dan naik bus ekonomi antar kota, maka mereka otomatis fleksibel di dunia kerja. Padahal dua hal ini beda banget.
Fleksibilitas dalam kerja itu soal mau lembur saat deadline, mau kerja di bawah tekanan, atau siap dirotasi ke divisi lain. Bukan soal mau jalan-jalan ke mana aja. Kalau kamu menceritakan pengalaman traveling sebagai bukti "saya fleksibel", pewawancara bisa salah paham dan mengira kamu lebih prioritas ke jalan-jalan daripada kerjaan.
Yang lebih parah, beberapa kandidat sampai bilang, "Saya siap ditugaskan ke luar kota, Pak, karena saya suka traveling." Niatnya bagus, tapi framing-nya keliru. Yang didengar HRD: "Orang ini cari kerja buat biayain hobi jalan-jalannya."
Cara menghindarinya: ceritakan fleksibilitas dalam konteks kerja. Misalnya, "Saya terbiasa bekerja dengan tim yang tersebar di berbagai kota, jadi saya paham cara koordinasi jarak jauh." Itu baru relevan.
Jawaban Gaji yang Terlalu "Santai" karena Terbiasa Hidup Simpel
Traveler biasanya punya gaya hidup hemat. Ini bagus untuk keuangan pribadi, tapi bisa jadi jebakan saat wawancara. Karena terbiasa hidup dengan budget minim, banyak yang menjawab pertanyaan gaji dengan enteng: "Nggak apa-apa di bawah UMR, yang penting saya bisa kerja."
Gue pernah ngobrol sama seorang rekruter di perusahaan FMCG, dan dia bilang hal ini justru bikin dia curiga. "Kalau kandidat menjawab terlalu rendah, saya mikir: apa dia benar-benar paham nilai dirinya? Atau dia cuma nekat dan bakal resign begitu dapat tawaran lebih baik?"
Menjual diri terlalu murah bukan tanda rendah hati. Di mata perekrut, itu tanda kamu belum siap bernegosiasi secara profesional.
Cara menghindarinya: riset dulu kisaran gaji untuk posisi dan industri yang kamu lamar. Bawa angka konkret, bukan jawaban "terserah". Kalau memang butuh kerja, tetap tunjukkan bahwa kamu tahu standar pasar. Ini soal profesionalisme, bukan keserakahan.
Cerita Traveling yang Nggak Nyambung sama Posisi yang Dilamar
Ini kesalahan yang sering banget gue temui. Kandidat ditanya, "Ceritakan tentang diri kamu," dan dia langsung nyerocos soal trip ke Bromo, pengalaman naik gunung, atau cerita seru naik motor keliling Sumatera. Menarik? Iya. Relevan? Belum tentu.
Padahal, pengalaman traveling itu bisa banget dikemas jadi kekuatan kalau kamu tahu cara menghubungkannya. Misalnya, kalau kamu melamar posisi sales atau business development, ceritakan bagaimana kamu biasa berinteraksi dengan orang dari berbagai latar belakang saat traveling. Kalau kamu melamar posisi logistik atau operasional, ceritakan bagaimana kamu biasa mengatur itinerary rumit dengan budget terbatas.
Kuncinya: jangan bercerita traveling hanya karena itu hal yang paling kamu banggakan. Ceritakan karena ada kaitannya dengan pekerjaan.
Latihan singkat: ubah cerita jadi nilai jual
Coba tulis tiga pengalaman traveling kamu, lalu untuk masing-masing, tanyakan: skill apa yang saya pakai di situ? Kemudian tanyakan lagi: skill itu berguna nggak buat posisi yang saya lamar? Kalau jawabannya nggak, simpan cerita itu untuk obrolan santai setelah diterima kerja.
Bikin Perekrut Ragu soal Komitmen karena Sinyal yang Salah
Traveler sering punya jadwal liburan yang sudah dipesan jauh-jauh hari. Ini wajar. Masalahnya, beberapa kandidat menyebutkan rencana liburan mereka di tengah wawancara tanpa diminta. Misalnya, "Oh iya, bulan depan saya ada trip ke Bali seminggu, jadi mungkin agak susah kalau langsung masuk."
Niatnya jujur, tapi timing-nya salah. Perekrut jadi mikir dua kali. Bukan karena mereka anti-liburan, tapi karena di fase wawancara, mereka sedang menilai seberapa besar komitmen kamu.
Cara menghindarinya: jangan bahas rencana liburan kecuali ditanya soal ketersediaan mulai kerja. Kalau memang sudah ada komitmen yang nggak bisa dibatalkan, sampaikan dengan tenang dan profesional saat topik itu muncul. Bukan diselipkan di tengah cerita tentang kelebihan diri.
Gue sendiri pernah salah di sini. Waktu melamar kerja pertama kali setelah lulus, gue cerita kalau gue baru balik dari solo traveling dua bulan. Maksudnya biar keliatan punya pengalaman hidup. Tapi yang ditangkap pewawancara: "Berarti dia baru saja nggak kerja dua bulan, dan mungkin masih pengen jalan lagi." Pelajaran mahal, tapi berharga.
Jadi, Gimana Frame yang Benar?
Intinya bukan menghilangkan cerita traveling dari wawancara. Justru sebaliknya — jadikan itu pembeda kamu dari kandidat lain. Tapi framing-nya harus tepat: pengalaman traveling sebagai bukti kemampuan adaptasi, problem solving, komunikasi lintas budaya, atau manajemen sumber daya. Bukan sebagai bukti bahwa kamu suka jalan-jalan.
Dan satu hal lagi yang sering gue tekankan ke teman-teman: wawancara itu bukan sesi curhat atau sesi berbagi cerita liburan. Ini sesi di mana kamu membuktikan bahwa kamu bisa bawa nilai ke perusahaan. Traveling kamu adalah bahan mentahnya. Cara kamu mengemasnya, itu yang menentukan.
Kalau kamu merasa sering gagal di tahap wawancara padahal CV-mu oke, coba cek ulang: jangan-jangan kamu terlalu jujur soal hal yang belum perlu diungkap, dan terlalu pelit cerita soal hal yang sebenarnya bisa dijual. Dua-duanya bisa diperbaiki, kok. Mulai dari latihan menjawab tiga pertanyaan klasik: ceritakan diri kamu, kenapa melamar di sini, dan berapa ekspektasi gaji. Jawab dengan kepala dingin, bukan gaya santai orang habis liburan.
===