Gue masih inget banget momen lima tahun lalu waktu ngelamar kerja di sebuah perusahaan logistik di Jakarta Selatan. Dateng pagi-pagi, bawa CV hasil print kemarin malam, tapi lupa bawa fotokopi KTP. Petugas HRD nyuruh balik, dan gue—dengan nekatnya—bilang, "Nanti saya kirim via email aja ya, Pak." Tentu aja nggak dikirim, dan tentu aja gue nggak dipanggil lagi.
Kalau sekarang dipikir-pikir, itu bukan sekadar lupa bawa dokumen. Itu pola. Pola orang yang nggak siap, tapi maksa ikut arus. Dan lucunya, banyak banget temen-temen gue yang udah punya anak satu-dua di kota besar, masih ngulangin kesalahan yang sama. Bedanya, mereka nggak cuma nekat buat diri sendiri—tapi buat keluarga kecil yang nunggu di rumah.
Jadi tulisan ini bukan buat ngehakimi. Ini lebih kayak curhat sambil ngasih tahu apa aja yang sebenernya bikin kita gagal di dunia kerja, khususnya buat kamu yang udah punya pasangan dan anak, tinggal di kota yang biaya hidupnya bikin keringetan tiap tanggal 25.
Baca juga: Kenapa Tas Ransel Selalu Ada di Wawancara Kerja Saya?
Nekat Tanpa Riset: Kelihatan Berani, Padahal Cuma Modal Nekat
Ada satu temen gue, sebut aja Rian, yang kerja di bidang marketing. Dia pindah kerja tiga kali dalam dua tahun. Alasan tiap pindah selalu sama: "Bosnya nggak ngerti gue." Pas gue tanya, dia pernah nggak sih riset dulu soal budaya kerja di tempat baru sebelum tanda tangan kontrak? Dia diem.
Nah, ini kesalahan yang sering banget terjadi. Kita terlalu fokus sama gaji dan jabatan, tapi lupa nanya: jam kerjanya gimana? Atasan langsungnya siapa? Ada lembur nggak? Buat keluarga muda di kota besar, pertanyaan-pertanyaan ini bukan kemewahan—ini kebutuhan. Karena jam pulang yang nggak jelas itu artinya waktu bareng anak hilang, dan biaya transportasi yang membengkak itu artinya uang susu ikut kepotong.
Cara ngindarinya gampang tapi sering dilupain: sebelum apply, cek review karyawan di platform karier, follow akun LinkedIn orang yang kerja di sana, dan kalau bisa, tanya kenalan yang punya jaringan di perusahaan itu. Lima belas menit riset bisa nyelametin kamu dari enam bulan penderitaan.
Wawancara: Terlalu Jujur Soal Alasan Pindah Kerja
Gue pernah duduk di posisi pewawancara. Dan gue udah dengerin ratusan jawaban soal "Kenapa kamu pindah dari pekerjaan sebelumnya?" Jawaban paling sering: "Cari suasana baru." Jawaban paling jujur tapi paling bahaya: "Kantor lama toxic, gaji kecil, bosnya nggak profesional."
Jujur itu bagus. Tapi jujur tanpa strategi itu namanya bunuh diri karier. Pewawancara nggak butuh tahu semua drama kantor lamamu. Yang dia mau tahu: apakah kamu orang yang bisa bawa solusi, atau orang yang cuma bawa keluhan.
"Kalau kamu ngomong buruk soal kantor lama, gue udah bisa bayangin kamu ngomong buruk soal kantor gue enam bulan lagi." — Kata seorang HRD yang pernah gue temuin.
Jadi gimana cara jawabnya? Fokus ke arah yang kamu tuju, bukan ke arah yang kamu tinggalkan. Contoh: "Saya mau kerja di tempat yang bisa bantu saya berkembang di bidang analisis data, dan dari riset saya, tim di sini punya proyek yang pas banget." Itu jawaban yang nunjukin kamu udah mikir, bukan cuma kabur.
Soal Gaji: Jangan Diam, Jangan juga Nembak Ngawur
Ini yang paling sering bikin gue geleng-geleng. Ada yang ditanya ekspektasi gaji, jawabnya, "Terserah perusahaan aja." Ada juga yang nembak dua kali lipat dari gaji terakhir tanpa alasan jelas. Dua-duanya sama-sama nggak enak didengar.
Buat keluarga kecil di kota besar, angka gaji itu bukan soal gengsi—itu soal bisa nggak kita bayar sewa apartemen bulan depan. Jadi sebelum wawancara, hitung dulu kebutuhan riil: sewa, transportasi, makan, susu anak, cicilan, dan sisihkan sedikit buat dana darurat. Angka itu jadi patokan bawah. Lalu cek kisaran gaji untuk posisi yang sama di kota kamu lewat survei gaji online. Baru deh kamu bisa jawab dengan angka yang masuk akal dan alasan yang jelas.
Terlalu Cepat Bilang "Iya" ke Semua Tawaran
Ini yang gue alami sendiri. Waktu itu gue dapet tawaran kerja dengan gaji lumayan, tapi jam kerjanya dari jam 8 pagi sampai jam 9 malam, enam hari seminggu. Gue bilang iya karena panik belum dapet kerja. Tiga bulan kemudian gue sadar, gue nggak pernah lihat anak gue bangun pagi. Pulang, dia udah tidur. Pergi, dia belum bangun.
Buat kamu yang punya keluarga kecil, ini bukan soal lemah atau nggak tahan banting. Ini soal matematika waktu. Kalau pekerjaan itu ngabisin 70 jam seminggu dari hidup kamu, sisa waktunya buat keluarga tinggal berapa? Dan yang paling sering dilupain: biaya tersembunyi. Anak jadi sering sakit karena jarang ketemu orang tua, pengeluaran buat jasa antar-jemput naik, dan biaya pengasuh anak membengkak.
Nggak ada salahnya nanya balik pas tahap tawaran: "Rata-rata jam pulang tim ini jam berapa?" atau "Ada nggak kebijakan kerja fleksibel?" Perusahaan yang sehat nggak akan tersinggung sama pertanyaan ini. Kalau tersinggung, ya berarti itu jawabannya.
Nggak Punya Jaringan, Tapi Merasa Bisa Sendiri
Dulu gue mikir, jaringan itu cuma buat orang yang kerja di perusahaan besar atau anak pejabat. Ternyata salah. Jaringan paling sederhana itu tetangga, temen main anak, atau mantan rekan kerja yang udah pindah. Dari situ banyak info lowongan yang nggak pernah masuk ke portal karier.
Kesalahan umumnya: kita nunggu punya sesuatu yang "layak" buat ditawarin baru mau kenalan. Padahal justru sebaliknya. Kamu kenalan dulu, bangun hubungan, baru nanti pas butuh, jalannya udah kebuka. Buat keluarga muda di kota besar yang waktunya sempit, ini investasi paling murah: sesekali ikut arisan RT, ngobrol sama orang tua lain di playground, atau sekadar balas chat mantan rekan kerja yang udah lama nggak kontak.
Gue nggak bilang ini bakal langsung ngasih kamu kerjaan. Tapi peluang kerja yang datang dari orang yang udah kenal kamu itu jauh lebih besar daripada lamaran yang nyebar ke seratus perusahaan tanpa pernah ada yang balas.
Intinya, nekat itu boleh. Tapi nekat yang ada hitungannya. Buat kamu yang punya keluarga kecil yang nunggu di rumah, kesalahan di dunia kerja itu bukan cuma soal ego kamu—itu soal dapur yang harus tetap ngebul. Jadi mulai sekarang, sebelum ngelamar atau masuk ruang wawancara, tanya dulu ke diri sendiri: ini nekat yang udah dihitung, atau cuma modal nekat?