Dulu, tiap sore selepas ngangkat beras di gudang, gue sering mampir ke warung Pak Slamet. Bukan cuma beli kopi sachet, tapi juga numpang dengerin orang-orang ngobrol. Di situ ada Mas Yanto yang kerja di pabrik kecap, ada Bu Rini yang jualan sayur, dan sesekali anak muda yang baru pulang dari kota bawa cerita soal magang.
Dari obrolan-obrolan itulah gue pertama kali paham apa itu kontrak kerja, kenapa ada lembur, dan kenapa orang bisa di-PHK. Nggak ada yang ngajarin formal. Sekolah cuma kasih teori, sementara hidup di kampung ngasih pelajaran lewat mulut orang sambil ngunyah kacang.
Baca juga: Ibu Rumah Tangga Coba Kerja Sebulan: Perubahan yang Bikin Kaget
Nah, dari pengalaman ngobrol bertahun-tahun itu, gue rangkum jadi ceklis. Bukan ceklis buat ngeblog atau bikin konten, ya. Ini ceklis beneran buat kamu yang tinggal di kota kecil atau desa dan lagi mau masuk dunia kerja.
1. Ceklis Sebelum Ngirim Lamaran
Banyak orang di kampung gue ngirim lamaran cuma modal nekat. Fotokopi KTP, ijazah, terus kirim. Padahal ada beberapa hal kecil yang kalau dicek dulu, peluangmu jauh lebih besar.
- Cek alamat perusahaan beneran ada atau nggak. Jangan cuma percaya info dari grup WA. Tanya tetangga, cari nomor telepon, atau mampir langsung kalau dekat.
- Baca ulang lowongannya. Kalau ditulis "diutamakan bisa mengoperasikan komputer", jangan kirim lamaran tanpa nyebut soal itu sama sekali.
- Siapkan nomor HP yang aktif dan mudah dihubungi. Kedengeran sepele, tapi gue pernah denger cerita orang nggak dipanggil-panggil, ternyata nomornya udah mati sebulan.
- Foto lamaran yang rapi. Nggak perlu studio. Cukup pakai kemeja, latar polos, muka kelihatan jelas. Jangan selfie sambil rebahan.
Ini yang sering dilupakan: bikin satu map atau folder berisi semua dokumen. Jadi kalau tiba-tiba ditelpon besok wawancara, kamu nggak panik nyari-nyari ijazah yang entah di mana.
2. Ceklis Waktu Dapat Panggilan Wawancara
Panggilan wawancara itu momen yang bikin deg-degan. Apalagi kalau kamu belum pernah kerja formal sama sekali. Tenang, ada beberapa hal yang bisa kamu siapkan tanpa harus kursus mahal.
Hal teknis yang wajib dicek
- Lokasi dan jam. Kalau di kota lain, hitung waktu tempuh. Lebih baik berangkat pagi dan nunggu di warung dekat lokasi daripada telat.
- Pakaian. Nggak harus beli baru. Kemeja polos yang bersih dan disetrika udah cukup. Kalau nggak punya, pinjam ke saudara nggak ada salahnya.
- Berkas asli. Bawa ijazah, KTP, dan dokumen pendukung lain di map plastik. Jangan dilipat jadi empat.
- Uang secukupnya. Buat ongkos, makan, dan jaga-jaga kalau pulangnya kemalaman.
Hal yang sering ditanya dan cara jawabnya
Pertanyaan wawancara itu sebenarnya nggak jauh-jauh dari: kenapa kamu melamar, apa kelebihanmu, dan berapa gajinya. Yang bikin gagal biasanya bukan karena jawabannya salah, tapi karena terlalu grogi sampai nggak jelas ngomongnya.
Gue pernah denger cerita dari Mas Yanto. Waktu dia melamar kerja di pabrik dulu, dia ditanya, "Kenapa kami harus terima kamu?" Dia jawab jujur: "Saya nggak pintar ngomong, Pak, tapi saya rajin dan nggak pernah telat sekolah." Ternyata jawaban sederhana itu yang bikin dia diterima. Bukan karena kalimatnya bagus, tapi karena kelihatan tulus.
Jujur itu bukan kelemahan. Yang bikin orang gagal wawancara biasanya bukan kurang pintar, tapi berusaha jadi orang lain.
3. Ceklis Hal soal Gaji dan Kontrak
Nah, ini bagian yang sering bikin orang kampung kita kena masalah. Karena nggak paham, akhirnya tanda tangan kontrak tanpa baca. Padahal isinya bisa macam-macam.
- Tanya status kerjanya. Kontrak, tetap, atau harian? Masing-masing beda haknya.
- Tanya nominal gaji dan kapan dibayar. Jangan malu bertanya. Ini hakmu.
- Cek ada potongan atau nggak. Kadang ada potongan BPJS, kadang ada potongan lain. Tanya biar jelas.
- Simpan salinan kontrak. Kalau perusahaan nggak ngasih, minta. Kalau nggak dikasih, foto pakai HP.
Gue inget Bu Rini pernah cerita soal keponakannya yang kerja di toko kelontong kota. Udah kerja tiga bulan, tapi gajinya nggak pernah penuh. Ternyata ada potongan "uang seragam" yang nggak pernah dijelasin di awal. Kalau aja dari awal ditanya, mungkin nggak akan segitu kecewanya.
4. Ceklis Setelah Dapat Kerja
Diterima kerja bukan garis akhir. Justru di sini kamu mulai belajar banyak hal yang nggak diajarin di sekolah.
- Catat jadwal dan aturan dasar. Jam masuk, jam pulang, cara izin kalau sakit. Sepele, tapi sering bikin masalah kalau nggak tahu.
- Kenalan sama rekan kerja. Nggak perlu jadi orang paling ramah. Cukup sopan dan nggak sok tahu di minggu pertama.
- Simpan slip gaji atau bukti pembayaran. Buat jaga-jaga kalau ada masalah nanti.
- Belajar dari yang paling senior. Mereka biasanya tahu seluk-beluk tempat kerja yang nggak tertulis di mana-mana.
Ada satu hal yang gue sadar setelah ngobrol sama banyak orang: yang bikin orang bertahan di kerjaan bukan cuma gaji, tapi rasa nggak sendirian. Makanya kenalan dan jaga hubungan baik itu penting. Bukan buat cari muka, tapi biar kerja nggak terasa berat.
Kalau kamu tinggal di kota kecil atau desa, mungkin akses informasinya nggak secepat di kota besar. Nggak ada kelas persiapan kerja, nggak ada komunitas karier. Tapi justru di situlah kekuatanmu: kamu bisa belajar dari orang-orang di sekitar. Dari warung kopi, dari tetangga, dari saudara yang udah kerja.
Ceklis di atas bukan jaminan kamu langsung diterima. Tapi setidaknya kamu melangkah dengan lebih siap. Dan itu udah cukup buat bikin kamu beda dari pelamar lain yang cuma modal nekat.